Artikel

Kok Tiba-Tiba Semua Jadi Skena?

Dimas Rizqy Setiadi, Josephine Mauli Esther Damanik, Wilma Aulia Daniswara

April 10, 2026 • 4 min read

LinkedInX
Kok Tiba-Tiba Semua Jadi Skena?
    Dirangkum oleh AI. Baca artikel lengkap untuk detail lebih lanjut.

    Lagi nongkrong di kafe, jalan di kampus, atau sekadar denger playlist teman, pernah nggak sih Kampus Mania ngerasa ada “warna” musik yang beda akhir-akhir ini? Nggak selalu masuk chart besar, tapi punya vibe yang khas, visual yang unik, dan entah kenapa terasa lebih personal. Biasanya, musik-musik kayak gini sering dikaitkan dengan satu istilah yang lagi naik daun: skena.

    Kalau dipikir-pikir, skena memang sering banget dikaitkan sama musik indie atau alternatif. Tapi sebenarnya, skena itu bukan cuma soal genre. Skena itu lebih ke “dunia” nya. Mulai dari musisinya, pendengarnya, tempat manggungnya, sampai cara orang berinteraksi, semuanya jadi satu kesatuan. Bahkan gaya berpakaian, desain poster, sampai tone warna di media sosial juga ikut membentuk identitas skena itu sendiri. Makanya, skena sering dibilang sebagai sebuah ekosistem, bukan sekadar selera musik.

    Dulu, skena berkembang lewat gigs kecil, kaset indie, atau komunitas lokal yang nggak terlalu terekspos. Interaksinya terasa lebih dekat dan personal. Tapi sekarang, semuanya berubah. Berkat platform seperti TikTok dan Spotify, musik dari skena bisa langsung masuk ke FYP dan didengar banyak orang. Lagu yang awalnya cuma dikenal di lingkaran kecil, sekarang bisa viral dalam waktu singkat. Menariknya, meskipun makin banyak terekspos, banyak musisi skena tetap mempertahankan prinsip mereka yaitu berkarya secara mandiri, tidak selalu mengikuti arus, dan bebas bereksperimen.

    Salah satu contoh yang cukup menarik datang dari The Panturas. Band asal Jatinangor ini membawa warna musik surf rock yang khas, dengan nuansa gitar ber-echo dan tempo yang enerjik, seperti suasana pantai tapi dibawakan dengan energi anak muda masa kini. Mereka juga nggak berhenti di satu gaya saja. Musiknya berkembang dengan mencampurkan berbagai unsur seperti garage rock, psychedelic, hingga sentuhan punk. Hasilnya terasa segar, tapi tetap punya identitas yang kuat. Kolaborasi mereka dengan .Feast dalam lagu “Gelora” juga menunjukkan bahwa musisi dari skena bisa menghasilkan karya yang bukan hanya enak didengar, tetapi juga punya makna dan jangkauan yang lebih luas. Dari lingkungan kampus sampai panggung internasional, perjalanan mereka jadi bukti bahwa skena bisa berkembang jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

    Kalau Kampus Mania perhatiin, banyak lagu dari skena terasa lebih “kena” secara emosional. Bukan cuma catchy, tapi juga terasa jujur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lagu seperti “Timur” dari The Adams misalnya, menggambarkan perjalanan hidup dan harapan dengan cara yang sederhana tapi dalam. Sementara itu, “Cinta Melulu” dari Efek Rumah Kaca justru menghadirkan kritik sosial terhadap industri musik yang terasa monoton. Ada juga “Disarankan di Bandung” dari Jason Ranti yang membawa nuansa nostalgia, tentang ruang, kenangan, dan perjalanan hidup yang terasa sangat personal. Justru dari kejujuran inilah, lagu-lagu skena jadi mudah melekat di kepala dan hati pendengarnya.

    Di tengah popularitasnya sekarang, skena memang sering terlihat seperti tren. Banyak yang mulai mengadopsi gaya visual atau selera musiknya. Tapi di balik itu, skena sebenarnya punya makna yang lebih dalam. Buat sebagian orang, skena adalah tempat untuk menemukan identitas, ruang untuk berekspresi, dan komunitas untuk saling terhubung. Bukan sekadar ikut-ikutan, tapi tentang merasa “punya tempat”.

    Pada akhirnya, skena bukan cuma soal musik yang kita dengar, tapi juga tentang bagaimana kita merasakan dan menjalani setiap cerita di dalamnya. Jadi, kalau belakangan ini Kampus Mania sering nemu lagu yang terasa beda, unik, dan somehow “kena banget”, bisa jadi itu datang dari dunia skena, dunia di mana musik bukan cuma didengar, tapi benar-benar dihidupi.

    Kalau Kampus Mania masih penasaran kenapa kata “skena” sekarang ada di mana-mana dan apa sebenarnya yang ada di balik dunia musik ini, jangan sampai ketinggalan siaran ONAIR Obrolan Nada dan Irama Episode 4 : Kebelet Skena yang bakal ngebahas lebih dalam tentang fenomena skena mulai dari maknanya, perkembangan, sampai kenapa musiknya bisa terasa begitu dekat dengan anak muda. Catat waktunya, Jumat, 10 April 2026 pukul 19.00 – 21.00 WIB only at website 8ehradioitb.com.

    TagsSkenaMusicGenreTrend
    Dimas Rizqy Setiadi

    Written by

    Dimas Rizqy Setiadi

    Josephine Mauli Esther Damanik

    Co-Author

    Josephine Mauli Esther Damanik

    Wilma Aulia Daniswara

    Co-Author

    Wilma Aulia Daniswara