Artikel
Antara Passion dan Passing Grade

Berbeda dengan kampus lain yang langsung memiliki jurusan sejak awal, ITB justru punya jalur berbeda yang membuat proses penjurusan terasa lebih menantang. Jalur ini telah diterapkan selama kurang lebih dua dekade yang lebih dikenal sebagai Tahap Persiapan Bersama (TPB), fase ini dirancang sebagai fondasi awal bagi para mahasiswa sebelum terjun ke dunia penjurusan. Melalui TPB, mahasiswa mendapatkan pembekalan seperti pembentukan pola pikir, kedisiplinan akademik, serta adaptasi ritme belajar dari sekolah menuju perkuliahan. Selain itu, TPB menyamaratakan standar akademik serta sebagai penyesuaian dari siswa menjadi mahasiswa.
Setelah melewati fase tersebut selama satu semester, hasil selama TPB menjadi bahan pertimbangan utama dalam proses penentuan jurusan. Hasil akademik inilah yang kerap menimbulkan kebimbangan di kalangan mahasiswa ITB. Nilai yang diperoleh bukan sekadar angka transkrip, melainkan penentu peluang dalam melangkah ke program studi impian. Oleh karena itu, tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya harus memilih antara idealis atau realistis yang menimbulkan pemikiran “Antara Passion dan Passing Grade.”
Pertanyaannya, apakah sistem TPB benar-benar menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk mencapai passion mereka, atau justru menjadi tembok pembatas ketika nilai yang diraih tidak memenuhi passing grade jurusan impian? Nyatanya, Rektor ITB sendiri menyampaikan hasil survei yang menunjukkan sekitar 60% mahasiswa ITB merasa salah jurusan karena program studi yang mereka peroleh bukanlah pilihan yang diinginkan sejak awal. Hal ini sering kali memunculkan rasa demotivasi di antara mahasiswa, sebab pada akhirnya mereka tetap harus survive dan beradaptasi di jurusan yang mereka dapatkan.
Salah jurusan di ITB tidak terjadi begitu saja. Terdapat beberapa faktor yang tanpa kita sadari memengaruhi cara mahasiswa menentukan pilihan jurusan mereka antara lain:
-
Si Gengsi lebih mengutamakan rasa malu untuk mengambil jurusan dengan passing grade tinggi daripada mengikuti passion sehingga berakhir mengabaikan potensi yang sebenarnya lebih cocok.
-
Si FOMO paling ga mau ketinggalan main atau nongkrong “setiap story harus ada gua-nya. ” Keputusan yang didasari fear of missing out sering berujung penyesalan ketika realita jurusan tidak sesuai ekspektasi.
-
Si Kurang Research selalu ketinggalan informasi karena kurangnya research tentang kurikulum, prospek, dan karakter jurusan. Bagi mereka nama besar jurusan terlihat menarik dibandingkan isi dan tantangannya yang belum tentu sesuai dengan minat serta kemampuan diri.
-
Si “Yang Penting ITB” lebih mengutamakan universitas dibandingkan jurusan. Fokus utama mereka hanya untuk lolos ITB dan join trend “sudah terbiasa terjadi tante”, tanpa mempertimbangkan jurusan dengan matang.
Apakah realita penjurusan ITB memenuhi ekspektasi kampus mania? Atau kampus mania masih berusaha beradaptasi di jurusan kampus mania? Episode perdana OKB: Obrolan Kalcer ITB yang berjudul “Antara Cita & Realita” siap menemani dan menjawab pertanyaan-pertanyaan kamu seputar penjurusan. Saksikan lebih lanjut pada Selasa, 3 Maret 2026 pukul 19.00-21.00 WIB only on website 8ehradioitb.com.
Written by
Daniella Terencetia
Co-Author
S. Tirza Joshlyn Hasianna
